hyperbolic discounting
alasan otak kita lebih memilih jajan sekarang daripada kaya di masa depan
Pernahkah kita berjanji pada diri sendiri di malam hari: "Besok saya mau mulai berhemat, mau rajin nabung buat masa depan." Tapi esok siangnya, saat melihat promo es kopi susu dan makanan ringan kesukaan di aplikasi pemesan antar, pertahanan kita runtuh begitu saja. Kita mengeklik tombol checkout. Sambil menikmati jajanan itu, ada rasa bersalah yang diam-diam menyelinap. Kita tahu menabung itu penting. Kita tahu berinvestasi itu baik. Lalu kenapa rasanya jauh lebih memuaskan menghamburkan uang lima puluh ribu hari ini, daripada membayangkan uang itu tumbuh menjadi lima ratus ribu sepuluh tahun lagi? Tenang, teman-teman tidak sendirian. Kita semua sebenarnya sedang bertarung melawan sebuah sistem operasi purba yang tertanam kuat di dalam tengkorak kita sendiri.
Mari kita mundur sejenak ke masa ratusan ribu tahun yang lalu. Bayangkan kita sedang hidup bersama nenek moyang kita di padang sabana yang keras. Mereka tidak punya rekening tabungan, tidak mengenal reksa dana, dan jelas tidak punya bayangan tentang dana pensiun. Bagi mereka, konsep masa depan itu adalah ilusi belaka. Kalau mereka menemukan buah beri yang manis atau sisa daging buruan, pilihan paling logis adalah menghabiskan semuanya saat itu juga. Menyimpannya untuk minggu depan sama saja dengan membiarkan makanan itu membusuk, atau lebih parah, direbut oleh predator lain. Insting bertahan hidup mereka sangat sederhana: ambil hadiahnya sekarang, karena besok belum tentu kita masih bernapas. Warisan insting evolusioner inilah yang diam-diam masih mengendalikan keputusan finansial kita hari ini. Otak kita sering kali masih mengira kita hidup di zaman batu, padahal kita sedang memegang ponsel pintar dan memiliki dompet digital.
Dalam dunia psikologi perilaku dan ekonomi, fenomena "jajan sekarang, melarat kemudian" ini punya nama ilmiah yang cukup keren: hyperbolic discounting. Secara sederhana, ini adalah kecenderungan otak kita untuk jauh lebih menghargai imbalan kecil yang bisa dinikmati seketika, daripada imbalan besar yang baru akan datang di masa depan. Semakin jauh jarak waktu tunggu untuk mendapatkan imbalan tersebut, semakin anjlok pula nilainya di mata otak kita. Coba tanyakan pada rasionalitas kita sendiri. Pilih mana: diberi uang seratus ribu rupiah hari ini, atau seratus sepuluh ribu rupiah tapi bulan depan? Hampir pasti kita akan memilih yang hari ini. Tapi, mari kita ubah permainannya sedikit. Pilih mana: diberi seratus ribu rupiah sepuluh tahun lagi, atau seratus sepuluh ribu sepuluh tahun plus satu bulan lagi? Tiba-tiba kita rela menunggu sebulan ekstra. Kenapa logika matematika kita bisa berubah drastis hanya karena pergeseran waktu? Siapa sebenarnya yang sedang mensabotase akal sehat kita?
Jawaban dari misteri itu akhirnya terungkap di dalam mesin pemindai otak, atau fMRI. Saat para ilmuwan saraf mengamati anatomi otak orang-orang yang sedang membuat keputusan finansial, mereka menemukan sebuah fakta yang cukup mengejutkan. Saat kita memikirkan imbalan instan—seperti sepotong kue manis atau barang diskonan—bagian otak bernama limbic system menyala sangat terang. Ini adalah pusat emosi dan dorongan primitif kita, yang dipenuhi dopamin dan selalu berteriak, "Saya mau kesenangan itu sekarang juga!" Namun, saat kita diminta memikirkan masa depan, bagian prefrontal cortex yang bertugas berpikir logis harus bekerja mati-matian untuk meredam teriakan emosional tersebut. Yang lebih menyedihkan, penelitian menunjukkan hal lain yang ironis. Saat kita membayangkan diri kita di masa depan—katakanlah diri kita saat berusia 60 tahun—otak kita memproses gambaran tersebut di area saraf yang sama persis seperti saat kita memikirkan orang asing. Ya, teman-teman. Di mata sistem saraf bawah sadar kita, diri kita di masa depan adalah orang lain yang tidak kita kenal. Makanya kita merasa tidak masalah merampas uang "orang asing" itu demi membahagiakan diri kita sendiri hari ini.
Mengetahui fakta ilmiah ini seharusnya membuat kita lebih berempati pada diri kita sendiri. Berhentilah menghakimi diri terlalu keras saat pertahanan dompet kita sesekali jebol oleh godaan diskon kilat. Kita sedang berhadapan dengan jutaan tahun sejarah evolusi manusia, dan itu jelas bukan pertarungan yang ringan. Namun, bukan berarti kita harus menyerah kalah pada insting purba ini. Kita bisa mulai mengakali hyperbolic discounting dengan cara menjembatani jarak emosional di kepala kita. Cobalah berkenalan kembali dengan diri kita di masa depan. Bayangkan wajahnya, bayangkan apa yang ia butuhkan untuk hidup nyaman, dan perlakukan ia bukan sebagai orang asing yang numpang lewat, melainkan sebagai sahabat terbaik yang sedang sangat kita lindungi. Kita bisa memanfaatkan teknologi untuk mengotomatisasi tabungan kita, agar uangnya tersimpan aman sebelum limbic system kita sempat menyadarinya. Pada akhirnya, menabung bukanlah tentang menghukum diri kita di masa kini. Menabung adalah tentang mengirimkan hadiah kasih sayang untuk sahabat kita di masa depan. Mari kita mulai belajar menyayangi "orang asing" tersebut.